Indonesian Coffee -Click here!!

12.21.2008

Your Family or Your Lover?

Lo mungkin berpikir suatu hari nanti lo akan berpisah dari keluarga lo dan mencintai seorang pria/wanita yang mengisi hati dan membuat jantung lo terus berdetak abnormal. Tapi bukan berarti karena lo mencintai dia lantas lo harus memilih, tidak ada pilihan, keduanya adalah kehidupan lo, satu dalam nadi lo, punya alur dan tujuan yang sama. Memilih bukan jalan yang terbaik kalo dalam hal ini, semuanya harus satu irama, kalo beda irama... kehidupan lo gak akan seindah yang lo inginkan.

Cinta itu gak menyakiti, kalo cinta menyakiti itu namanya bukan cinta.
Cinta juga gak memaksa, tapi penuh kompromi.
Cinta itu gak buta [kalo buta pasti jadinya menyakiti], tapi penuh perhitungan...

Kalo lo bingung memilih jangan dipaksa hati lo buat memilih, mending lo diam dan menjauh. Kasih kesempatan diri lo buat berpikir, biarkan hati lo bernafas, jangan tersekap dalam kepastian tiada akhir.

Take a deep breathh....
Now released it....


Seperti itulah...
Berat... itu pasti...
Sakit... itu jelas...
Bingung... apalagi...
Karena gw selalu bilang sama semua orang, terutama perempuan; jangan terlalu mencintai seseorang, suatu hari terjadi sesuatu hati lo akan hancur berkeping-keping tanpa ada cadangan buat mencintai diri lo sendiri. Beri separuh cinta, separuhnya lagi cintai diri lo, dengan mencintai diri lo berarti lo sudah menghargai diri lo.
Biasanya pria lebih menghargai wanita yang bisa menghargai dirinya sendiri. Dan wanita menyukai pria yang mampu menghargai wanita, seperti dia menghargai dirinya sendiri.

Tapi ini cuman pandangan gw loh, karena cinta gw itu ya seperti itu...
Menikah cuma sekali dalam seumur hidup, lo bayangkan kalo lo harus menikah dengan dia di usia 25 tahun. Dan lo harus ingat sisa hidup lo nanti harus lo lalui bersama dia, bisa gak lo membayangkan dia bisa menjadi seseorang yang terbaik buat hidup lo?
Orang yang mampu membuat lo merasa nyaman, menjadi rumah buat lo pulang, memberi nafas dalam hati lo, memberi ruang buat lo untuk tetap mencintai keluarga lo dan yang terpenting... keluarga lo... mencintai dia karena keluarga lo tau, cuma dia yang bisa mencintai dan menghargai lo, seperti apa yang selama ini mereka lakukan untuk membesarkan lo sampe akhirnya lo memutuskan untuk mencintai dia.

Cuma itu...

Kalo semua itu gak terpikir dalam kepala lo...
Itu artinya lo harus cari jalan lain...

12.15.2008

Marcella Z vs Agung, Which One is Innocent? Part.2

Kalimat pengakuan Siska ini;
'Pertama telepon, dia bilang lagi ada masalah dengan Marcella. Kebetulan aku kenal papanya Marcela dan minta tolong agar aku menelepon papanya Marcella. "Bilang sama papanya aku akan membayar utang itu, tapi dicicil sebanyak 2 kali. Tolong ya"...' Lalu Siska pun menyampaikan pesan Agung, tapi ternyata gak ada hasil. Akhirnya Siska menelepon Agung lagi;
'Maaf Gung, gak ada hasil deh... Emangnya kenapa sih? Dia jawab; "Kalo gitu kamu hubungin polisi ya? Aku sudah gak tahan nih disekap dan dianiaya". Siska merasa tidak percaya dan berusaha untuk meyakinkan dirinya, tapi berjanji untuk segera menghubungi polisi. Agung menjawab lagi; 'Tapi cepetan ya? Aku yakin bakalan disekap lagi.'

Kalimat pertama yang di BOLD, masih bingung kenapa gw bilang ini kalimat yang membuat gw merasa janggal?
Psychologically speaking... Agung pasti berharap bisa mengulur waktu dengan meminta tolong papanya Marcella, dia pikir Siska pasti bisa bantu dia dengan cara ini. Mana ada orang disekap kepikiran buat barter ilmu coba? Logika-nya orang disekap begitu ketemu sama telepon [yang pasti didapat dengan susah payah] langsung minta telepon polisi! Gak pake nego begini, secara logika aja udah salah.
Masalah salah sekap atau gak itu urusan nanti, yang penting selamat... Betul begitu bukan? Coba pake contoh kasus, misalnya lo disekap, gara2 lo ingkar janji sama temen lo, kesel janjinya lo ingkari, dia menyekap lo di sebuah ruangan, bobrok, gelap dan entah apalagi [ini menyekap versi nyata, bukan versi fantasi kayak Agung]. Dan lo menyadari bahwa ada satu pesawat telepon tergeletak, yang salah dari telepon itu cuma kabelnya aja putus. So pasti dengan sekuat tenaga lo akan menyambung kabelnya kan? Udah kesambung... siapa yang telepon pertama? Orang yang paling dekat dan paling lo kenal, trus minta tolong apa? Minta tolong teleponin bapaknya temen lo supaya ngampunin lo gara2 ingkar janji? Duilleehhh baik bener... pasti langsung telepon polisi kan? Pikiran utama dalam kepala lo kan cuma; gimana caranya keluar dari sini dengan selamat dan tubuh utuh tanpa luka. Nah... coba bayangkan kalimat Agung itu, apa itu artinya dia gak bunuh diri?
Begitu tau Siska is not helping at all dan merasa keberadaannya dalam bahaya, barulah dia punya ide penyekapan yang ditambahi bumbu2 manis supaya jadi hiperbol....
Jantungnya Agung pasti sedikit berdetak abnormal waktu Siska nanya; emang beneran? Mungkin karena itu dia langsung bilang; 'Tapi cepetan ya? Aku yakin bakalan disekap lagi.'
MANA ADA orang disekap satu kali mau dua kali??
kalimat itu dikatakan kan berarti dia sudah berhasil lepas atau mungkin kejadian penyekapan yang pertama itu gak pernah terjadi??? Cuma jeda beberapa menit? Ini orang gak konsekuen sama sekali...
Dan lagi, kalimat sejelas itu tercetak di berbagai media.... tak ada satupun orang sadar dengan keganjilan-keganjilan ini?

Bukan gw membela Marcella, kalo emang doi salah sih salah aja, lagian gak ada untungnya juga gw ngebela selebriti... Secara gitu juga, gw gak dapet duit dari menganalisa kasus ini. Cuma gregetan aja gw... apakah gw terlalu sensitif, atau emang semua orang di Indonesia menelan berita di media mentah-mentah tanpa mencerna secara logika, ilmu psikologi, nalar atau apalah itu namanya? Gila, pantesan gw bisa bikin suspense... Kemaren aja si Ryan aja udah gw diemin... untung dia ditangkep, coba kalo dia bebas... maybe gw akan memaki di blog ini lagi... dah...

Trus? Masih mau diterusin gak?

12.13.2008

Marcella Z vs Agung, Which One is Innocent?

Fhhhh... gw mau berlagak sok detektif nih, kayaknya emang telat banget kalo ngomongin hal ini sekarang. Abis apa boleh buat, gw kan gak suka nonton gosip... Jadi jangan disalahin dong. Gw lebih suka nonton NGC or AFC... [caelahh... berasa pinter banget gw] Hehehehe....

Pertama denger gosip ini dari partner nulis gw; Rien. Begitu gw bilang; masa? Rien langsung protes dan bilang kalo sekali-kali gw perlu nonton gosip. Tapi gw gak suka acara begituan, mending denger langsung ajalah... Males aja liat siaran yang topiknya hampir selalu sama. Paling ngebahas cinlok yang kemudian langsung dibesar-besarin, ato seputar patah hati artis yang gak penting, berita cerai, sampe konsumsi rumah tangga. Gezz... kayak gak punya kerjaan gw nontonin artis, hidup gw kan lebih berharga dari mereka.

Jadi gini, katanya Moreno lagi kena kasus sama Marcella. Dibilang nyiksa cowok-lah, trus katanya cowok itu disuruh minum sperma-lah... Damn! Gw ampe menceploskan kata-kata pertanyaan yang berisi; jangan-jangan Moreno gay? Tapi itu cuma ceplosan, gak mungkin lah... cowok tulen gitu kan, secara tipe ceweknya juga yang selalu cewek banget... demen banget gonta-ganti pula. Ya kan? Lagian kalo bilang Moreno gay... bisa abis gw dicaci fans Moreno. Tapi gak... he's straight... damn straight... scan his brain if you curious... Hahahahahahaha...

Gw baru baca gosipnya pagi ini di tabloid Wanita Indonesia, di halaman belakang tertulis lengkap pernyataan dari ibu Marcella. Tampak mengesankan dan sangat terpercaya, tapi seperti yang selalu dikatakan oleh Dr. Temperance Brennan [yang diperangkan oleh Emily Deschanel] dalam film seri BONES; I'm comfortable with evidence... not logically speaking. Akhirnya gw membuka halaman 24, di mana semua orang mulai berebut bicara di sana.
Gw meng-analisa dengan cara yang paling tidak disukai Dr. Temperance Brennan, dan berpikir ala grup BAU di film Criminals Mind dan mulai menerka bagai Special Agent Shelley Booth. Pertama-tama, gw membaca kolom kelalaian yang dilakukan oleh korban yang bernama Agung [damn... namanya sama ama ade gw...]. Begini kira-kira kronologis pernyataan dari para korban kelalaian Agung;
  1. Esti Heru Prastianti, ibu ini kehilangan uang 20 juta karena ingin bekerja sama dengan Agung dengan iming-iming 5% komisi dari modal yang ditanamkan. Which is... dalam dua bulan awal dia mendapatkan satu setengah juta rupiah. Dan berikutnya Agung menghilang dengan cerdasnya, bagai ahli sihir kelas dunia. Jadi bisa dikatakan, ibu yang bijaksana dan merelakan uangnya ini mengalami rugi sekitar 18,5 juta rupiah.
  2. Umi, yang dengan relanya kehilangan uang 68 juta, sementara temannya mengalami kerugian hampir 2 miliar karena terlalu percaya pada omongan manis Agung di tahun 1991. Namun hasil protes mereka hanya meng-akibatkan Agung dipenjara selama 7 bulan... yang gak adil ini hukumnya atau apa sih?
  3. Herman, si Agung ini bener-bener udah kepepet butuh uang kayaknya, tetangga sendiri dipinjem uang 27 juta dan amblas tanpa jejak. Untung bukan gw, kalo gw pasti udah pake surat perjanjian segala macem, kalo perlu tindakan hukum jadi gw terlindungi dan bagus-bagus duit gw bisa balik utuh dengan bonus Agung ditindak pidana lagi. Nanti gw kasih Pupuy cs pe-er buat kasih tau gw, UU mana yang bisa menjerat tindakan seperti ini.
  4. Mujahiddin, wow! Dengan ikhlasnya bapak ini merelakan uang 60 jutanya yang raib dipinjam Agung dengan alasan mau berbisnis! Gila pak... pak... mending uangnya buat saya aja, bisa bikin cafe mewah udah... Pake perjanjian pengembalian utang pula.
  5. Ismar, di tahun 2002 dia tergiur dengan janji Agung yang mengajaknya berbisnis dan mulai kehilangan uang sebanyak 180 juta secara perlahan, belum lagi doi juga udah menyerahkan BPKP mobil Honda Civic tahun 1991-nya pada Agung. Daripada ngadu ke hukum yang mungkin menurutnya tidak adil dan malah akan membuatnya semakin bangkrut. Orang ini memutuskan untuk curhat sama Tuhan dan berharap Agung mendapatkan balasannya. Boleh jadi sikap ini dibilang bijak... salut... salut...
Nah, dari rangkaian cerita di atas dan mengenai cerita dari anggota keluarganya yang menyatakan bahwa Agung juga pernah mengecewakan anggota keluarganya dengan menghilangkan uang sebesar 300 juta, juga berdasarkan dari perkataan keluarganya yang menyiratkan bahwa Agung sudah terbiasa melakukan hal yang sama; 'Saya sudah ingatkan Agung agar tidak masuk lubang yang sama...'.
So... Psychologically speaking...
Tipe pria seperti Agung ini bisa menaklukan mesin pendeteksi kebohongan yang dimiliki oleh kepolisian Indonesia. Dia ini artis sejati, mampu membuat orang percaya begitu saja dengannya karena omongannya benar-benar manis dan meyakinkan. Dia bisa berbohong sambil menatap mata seseorang tanpa kesalahan kata sedikitpun, dan dia bisa segera membantah jika dia kepepet. Pria ini bisa menjadikan berita kecil menjadi berita besar, dia suka menjadi fokus masyarakat, terbiasa dielu-elukan dan yang lebih penting; dia berobsesi untuk menjadi kaya dan terkenal. Untuk mengetahui kebenaran dari ucapannya, pakai lagi mesin deteksi kebohongan yang lebih canggih, atau untuk cara tradisional [duh... masa musti saya ajarin caranya sih pak Polisi...], pake cara ini;
Setiap orang pasti punya kelemahan, pasti punya. Jadi jangan malas duduk di kursi dan percaya begitu aja sama Agung ini dong... telusuri masa lalunya, dan begitu ada celah untuk masuk... Jangan bicara cuma dengan polisi aja, dampingi dengan ahli kejiwaan. Dan cecar secara perlahan dengan menggunakan data-data masa lalu, biasanya orang akan menjadi takut, berkeringat dan mulai meminum air banyak-banyak, mata membulat dan timbul ekspresi di wajah tenangnya. Bahkan penipu kelas kakap sekalipun.

Jadi menurut gw sih... cerita aslinya begini nih...
Rabu 3/12 2008, pukul 01.30 WIB
Agung dijemput paksa di Menara Imperium oleh 3 karyawan Marcella; Haryanto, Yoga Mega Permana dan Ruli Hasbi. Trus di bawa ke hotel Ibis di kamar 602 cuma untuk dicaci, ditendang, disundut rokok, disuruh minum sperma? What the...
My opinion near to analysis:
Jam setengah dua malam, di Menara Imperium? Pertanyaannya, buat apa Agung ada di gedung itu pada pukul tersebut, apa yang dia lakukan dan sama siapa? Biasanya, orang tidak akan berpergian sendirian di jam-jam tersebut, kecuali dia sudah mengadakan perjanjian dengan orang lain untuk menjemputnya di tempat yang dimaksud.
Jadi, kemungkinan mereka punya rencana sendiri menuju hotel Ibis mungkin? Pasti ada rekaman dari hotel-nya dong... dan seorang ahli kejiwaan bisa menilai sikap Agung dan 3 orang karyawan Marcella, apakah penuh amarah, dan lain sebagainya.
Tapi kalo dipikir dari sisi orang yang ingin menyiksa, gw gak terpikir bawa Agung jam setengah dua malem buat disiksa di hotel Ibis... Ini penjahat pasti kelebihan duit. Gw lebih prefer melakukan penyiksaan di hotel murah, atau tempat terpencil. Karena satu, tidak ada kamera pengawas, dan orang pasti udah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Di bawa ke hotel Ibis? They must be up to something... dig it!

Pukul 10.30 WIB
Check out dari hotel dan menuju kantor Marcella, di Cikini. Abis itu muncul Ananda dan Moreno. Lalu Agung mendapat caci maki dan disuruh melunasi hutangnya hari itu juga.
My opinion near to analysis:
Kenapa harus check out jam setengah sebelas? Kenapa gak check out dari jam delapan pagi atau jam tujuh mungkin? Perjalanan menuju Cikini kan panjang, bukankah lebih pagi malah lebih bagus dalam menyelesaikan masalah? Karena otak manusia pada jam-jam ini masih bisa dibilang lebih relax dibanding siang. Kemungkinan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin lebih besar, ketimbang dibawa siang-siang.
Lagipula, lihat lagi kamera pengawas dari hotel. Analisa gerak tubuh mereka ketika keluar dari kamar hotel. Benarkah Agung mengalami luka hasil penyiksaan? Lagipun, kalo emang Agung disuruh nelen sperma... kandungan sperma dalam perut bisa diketahui dengan pemeriksaan bukan? Gak usah jauh-jauh ke perut, periksa aja daerah sekitar mulut. Biar udah terhapus dengan air, pasti ada sisa cairan sperma dalam mulut. Dan dari cerita... sampe dimasukin sendok ke anus? Hahahahaha... otak gw malah berpikir ini cuma semacam pesta kecil bagi mereka berempat, tapi gak tau deh... kenapa gak di periksa aja dan diketahui itu luka lama atau baru? Apa yang menyebabkannya, kalo di anus terjadi tanda-tanda pernah dimasuki benda asing atau tumpul, kemungkinan besar bukan sendok... karena sendok sama sekali gak tumpul. Dan bisa jadi mengarah lagi ke investigasi yang lain.
Agung dicaci? Hal ini bisa jadi yang paling masuk akal dalam kronologis cerita, kemungkinan besar di pasti diadili sepihak oleh pihak Marcella, dia duduk di tengah ruangan, sementara dikelilingi orang-orang yang marah karena menuntut uangnya dikembalikan. Emosi ini pasti terjadi, wajar... tapi sampai terjadi penyiksaan? No way... Marcella, Ananda, Moreno pasti mikir dong... gak mungkin mereka membiarkan emosi menelan abis-abis mereka yang beresiko ngebantai abis seluruh karir mereka. Bodoh aja... paling cuma dimaki-maki.
Gak percaya sama teori ini? Coba mikir deh... lo punya karir oke, uang lo berlimpah dan anggep aja lo rugi sekitar 10% dari total kekayaan lo, kesel dan emosi itu pasti. Tapi akankah meresikokan untuk ditangkap gara-gara tindak penganiayaan, sementara itu karir lo bisa membuat lo mengembalikan kerugian itu dalam waktu pendek? Mending marah, trus lupakan bukan? Daripada ngamuk gak jelas, ini cuma dilakukan oleh orang yang merasa kehilangan seluruh harta bendanya, jangankan dipukuli, kalo perlu dibunuh pun akan dibunuh...

Pukul 13.30 WIB
Dipindahin ke lantai 11 buat disekap, yang laen ada di lantai lain dan Agung dengan mudahnya membujuk anak buah Marcella untuk meminjamkan telepon, lalu Agung bisa lari ke kamar mandi buat telepon? Waakkksss....
My opinion near to analysis:
Seawam-awamnya orang yang mau belajar jadi tukang sekap or penjahat, gak akan melakukan perbuatan sebodoh ini. Jadi pertanyaannya adalah; sebodoh apa Marcella cs yang menyekap atau Agung yang dengan bodohnya menjerat dirinya sendiri dengan kalimat yang salah dalam melakukan pengaduan kronologis cerita pada polisi?
Kebiasaan orang kalo mau menyekap seseorang itu pastilah korban dalam keadaan terikat dan mulut dibekap, kalaupun tidak dalam keadaan terikat, ruang yang digunakan untuk menyekap pasti punya kondisi khusus, entah itu kedap udara atau terpencil dari keramaian. Tapi pasti salah satu anggota tubuh korban akan terikat supaya tidak melakukan hal yang macam-macam. Ini bukan teori, tapi ini naluri... karena orang yang ingin menyekap pasti tidak ingin hasil sekapannya macam-macam dan menghancurkan semua rencananya. Gak usah penjahat deh... orang tua kalo nge-hukum anaknya juga dikurung di kamar mandi kan? Bukan kamar tidur? Kenapa? Karena kalo di kamar tidur, kondisinya terlalu nyaman, bisa jadi si anak lupa dan malah bermain dengan benda di sekitarnya. Kalo di kamar mandi kan suasana terbatas, gelap pula [kalo yang tombol lampu kamar mandi di luar], lagipula kamar mandi terhitung lebih kedap suara dibanding kamar lain karena jendelanya pasti minimalis. See... pasti gak ada yang kepikiran, tapi ini sikap natural. Karena itulah menurut gw, cerita pada jam ini sama sekali gak masuk akal, pastilah Agung cuma diminta menunggu sampe Marcella dan yang lainnya entah lapor polisi atau bicara dengan pengacara mereka. Merasa terancam, otak Agung bekerja dan memulai rencana.
Lagian... mana ada orang yang disekap bisa pergi ke kamar mandi sendirian dengan HP di tangan pula? Bodoh apa? Dan orang yang percaya dengan alur cerita ini lebih bodoh lagi. Intinya gak mungkin... ini kejadian paling janggal.
Dalam hal ini Siska bisa jadi tersangka pelaku penipuan atau malah seseorang yang gak tau apa-apa, dia bisa berdusta dan ikut-ikutan Agung karena ingin famous atau dia terjebak karangan cerita hiperbol Agung.
Lalu, perhatikan kalimat pengakuan Siska ini;
'Pertama telepon, dia bilang lagi ada masalah dengan Marcella. Kebetulan aku kenal papanya Marcela dan minta tolong agar aku menelepon papanya Marcella. "Bilang sama papanya aku akan membayar utang itu, tapi dicicil sebanyak 2 kali. Tolong ya"...' Lalu Siska pun menyampaikan pesan Agung, tapi ternyata gak ada hasil. Akhirnya Siska menelepon Agung lagi;
'Maaf Gung, gak ada hasil deh... Emangnya kenapa sih? Dia jawab; "Kalo gitu kamu hubungin polisi ya? Aku sudah gak tahan nih disekap dan dianiaya". Siska merasa tidak percaya dan berusaha untuk meyakinkan dirinya, tapi berjanji untuk segera menghubungi polisi. Agung menjawab lagi; 'Tapi cepetan ya? Aku yakin bakalan disekap lagi.'

Coba perhatikan kalimat mana yang menyatakan kesalahan terbesar yang dilakukan oleh Agung, dan jeda waktu mana yang membuat gw berkesimpulan Agung melakukan kesalahan terbesar dan kemungkinan polisi melakukan penangkapan orang yang salah?
Well... coba jawab, berhubung cerita analisa gw masih panjang dan sekarang hari Sabtu jam setengah sembilan dan gw masih banyak urusan lagi...
So... kita lanjut lagi ntar... owkeh...
Jawab aja dulu... Kalo penasaran, tinggalin pesen dong... Gegegegegege...
Kalo gw sampe bisa memecahkan masalah ini, Marcella... lo mau kasih gw apa?

Don't Judge a Book by it's Cover

You can't just judge people by it's cover, that's what mostly people say and known. Well... it's damn true.... You can't! Why? Because sometimes what looks good on the outside doesn't looks good on the inside, and sometimes what doesn't looks so good on the outside does have a sweet taste on the inside.

For the past seven days... I mostly talking about peoples, I just learn about people lately. And I know I'm late, very late... But it's better late than never right? Okay back to peoples...

Why would I say like that? Well... check this out...



You can be bitch...
You can be anyone... As long as you don't bother other peoples.
That's only my opinion, many peoples will rejected anyway...
But, what the hell....
We can be anyone we want!
So.. screw the rest...

Don't bother me
And go ahead... judge me as much as you want...
Until the end...
Only ME knows the truth...
I do what I want to do...

This song... is represent me best...
So... if you want to know about me much..
Listen to the song and learn the fact about me...
Here's the link to the lyrics... St. Trinian's Theme Song

12.08.2008

Change Color

Wahhh... entah kenapa akhir-akhir ini rasanya pengen aja nulis blog terus...
Mungkin gw sedang merasa bahwa dunia gw sedang mengalami sedikit perubahan warna, dengan sedikit banyak pertanyaan. Kenapa juga gw harus sok sopan kalo emang itu bukan diri gw? Kenapa harus takut kehilangan orang yang gak bisa mengerti gw?

Gila Tyas... Lo punya jalan kehidupan sendiri! Tyas ya Tyas... bukan siapa-siapa, jangan biarkan orang lain menggambar kehidupan lo dan merantai erat diri lo dalam lingkup yang sempit dan hanya dunia hambar yang itu-itu aja.
Okelah gw akan melangkah, tapi tentunya gw akan tetap tahu diri. Karena apa? Tetep aja darah sok tau itu kan mengalir deras di dalam vena gw, jadi seperti apapun gw menolaknya, hati gw tetap akan bicara lain.

Selama ini gw menggambarkan kehidupan gw selalu berwarna abu-abu, monoton dan tidak banyak pilihan warna, hanya hitam dan putih yang artinya; YA atau TIDAK. Dan gw selalu terjepit di tengah-tengah.
Perjalanan empat hari lebih mengajari gw, dan gw belajar buat bilang; TIDAK.
Gw gak mau harus sampe dipaksa menikah secepat itu, sebegitu ngerinya mereka kehilangan gw dan sebegitu gilanya mereka untuk menikahkan gw?
Kemaren gw baru aja jalan bareng sama sahabat gw dari SMU, dengan bodohnya kita ngebicarain soal pernikahan dan terus melihat keluarga yang bahagia. Saat itu gw keceplosan bicara, karena gw ngelihat suami istri dan dua anaknya yang lucu-lucu. Gw bilang; saat itu terjadi pada gw nanti, saat itu gw tau... gw pasti bahagia...
Sekalipun sampe sekarang gw kurang begitu mengerti apa maksud ucapan gw, tapi gw tau... pada saatnya nanti gw akan bahagia. Entah sama siapa, yang pasti hal itu akan terjadi... jadi tunggulah... dan jangan paksakan kehendak pada hati yang belum siap terluka.

Gw belum siap terluka
Gw belum siap untuk disakiti lagi
Hati gw belum siap untuk bicara
Hati gw belum siap untuk menobatkan seseorang dan menempat dirinya pada tempat yang paling terhormat
Gw belum siap untuk berkomitmen...
Belum siap untuk melangkah lebih jauh...
Jadi tolong...
Jangan paksakan pada hati yang belum siap terluka ini.
[Kalo bisa jangan pulang dulu... sana belajar aja yang lama... Jangan balik ke Indonesia dulu... okeh chayangggg?]

Gw masih pengen main-main, masih pengen travelling and fooling around ... jadi males aja kalo disinggung-singgung soal pernikahan dan keharusan yang ini dan itu...
Kamu harus nikah sebelum ke Luar Negeri
Kamu harus nikah sebelum keasyikan kerja
Kamu harus nikah sebelum usia kamu 25
Kamu harus gini...
Kamu harus gitu...
Astaga... betapa bosannya gw mendengar kalimat itu!
Emang gw sayang banget sama beliau [eyang gw], dan waktu dia di operasi kemarin itu... gw bener-bener putus asa dan pengen banget cari suami instan yang mau menikah dalam itungan hari sebelum eyang gw berjuang di meja operasi.
Dan bukan karena sekarang gw melihat beliau sehat dan baik-baik aja, lantas gw memutuskan untuk melupakan niat instan itu...
Saat itu gw terdesak...
Saat itu gw gak bisa berpikir lagi...
Dan sekarang mungkin gw plin-plan, tapi gw bener-bener gak siap untuk menikah...

Biarkan dulu aja gw berkembang lebih baik.
Biarkan gw melangkah dan menjejak lebih jauh.
Biarkan aja gw merubah dulu warna kehidupan gw...
Biarkan...
Supaya gw bisa tulus mencintai satu orang saja dalam satu kehidupan gw....
Jadi...

LET ME BE
SET ME FREE
DON'T COME HOME JUST YET
COZ I'M NOT READY YET
JUST WAIT...
PLEASE WAIT...
AND I PROMISE YOU TO BE THE BEST PARTNER FOR YOU...
AS YOU WISH...

12.07.2008

One Time Story

I have a story for each of you
You can call it a strange story or whatsoever
I don't ever care
I heard people from outside of my window tonight
Tomorrow is a big day for moslem's peoples
We'll celebrate Idul Adha
And just yesterday, I know what people these day made from...

This is my story and I'll write it in Indonesia...
So if you really want to know the English version of this story...
Sent me a message and I'll sent the English version...

Ternyata pertemanan gak bisa dihitung dengan jari atau hari, dan pertemanan tidak bisa ditinjau dari usia. Tua, muda, laki-laki, perempuan... I've been through all of that.
Pertemanan juga tidak bisa dilihat dari gender, bukannya gw udah bilang tadi? Dan jangan pula merasa angkuh dengan apa yang sudah lo miliki saat ini. Dunia lo gak berputar pada satu poros yang sama, tapi berjalan seperti roller coaster, begitu cepat dan selalu berubah. Dunia yang kita hadapi bukan roda yang bisa berada di atas dan di bawah, tapi berjalan.
Dengan cepat dan tanpa kompromi.

Kemarin gw baru aja belajar mengenai kehidupan yang berbeda; buat apa menjadi orang lain kalo hanya membohongi diri sendiri? Gw pikir selama ini gw udah berada di dalam tempat yang tepat dan orang-orang yang tepat, berada di tengah-tengah masyarakat intelek kelas atas tanpa sedikitpun melirik orang-orang yang berada di luar garis intelek.
Gak cuma gw cibir mereka, berteman pun enggan. Gw pikir yang ada di dalam kehidupan mereka pasti cuma party and have fun, ya mungkin sebagian dari mereka memang begitu. Tapi pada saat lo membuka mata, lo akan menemukan warna yang berbeda dari mereka dan menemukan sedikit demi sedikit kepingan dari diri lo yang terpecah. Akhirnya akan membentuk fragmen kehidupan lo yang berantakan, melengkapinya satu...

Demi satu...
Menjadikannya utuh...
Sekalipun perlahan...
Tapi ternyata waktu pasti akan membantu...

Empat hari gw kerja dengan perusahaan yang bernama Pamerindo [see www.pamerindo.com], saat itu hal pertama yang terlintas di kepala gw cuma; UANG. Gak terpikir untuk menjejak ke dunia yang baru dengan orang-orang yang baru pula.
Tapi ternyata mereka malah mengajari gw banyak hal, membuka mata gw, bahwa dunia itu tidak berputar pada satu poros yang sama dan gw gak bisa berada dalam satu lingkaran dunia yang sama terus menerus. Suatu hari gw harus melangkah, keluar dari siklus kehidupan gw, melihat orang lebih banyak lagi dan mengenal mereka lebih banyak sebelum gw memutuskan untuk mencibir mereka. Selama ini ternyata mata hati gw tertutup oleh dunia ningrat yang terus dijejali ke dalam otak gw sejak masih orok.
Gw cuma kenal dunia gemerlap itu, dengan manusianya yang angkuh, sok aristokrat, angkuh dan entah apalagi. Gw emang muak dengan semua peraturan menggelikan itu, tapi ternyata tanpa gw sadari rantai aristokrat itu udah mencengkram gw erat-erat, mengunci erat kehidupan gw dan memaksa gw berpikiran seperti robot. Berulang kali gw mencoba melarikan diri dari cengkraman rantai aristokrat itu, berulang kali pula kunci-kunci rantai itu semakin kuat mengikatku. Mungkin saat ini gw masih belum bisa melarikan diri sepenuhnya, tapi setidaknya gw masih mampu buat berjalan pelan sambil perlahan melepas satu persatu kunci yang merantai gw ini.


Panasnya box registrasi gak membuat kita semua jadi emosi dengan berbagai macam orang yang dateng ke acara pamerindo itu, masih tetep bisa gila, masih tetep bisa ketawa, bahkan masih sempet foto-foto.


Thanks to Dita Swastiasti... kalo bokap lo gak kenal bokap gw mungkin hidup gw gak bakal berubah warna.
Thanks to Athien, yang udah menyemangati gw di hari pertama... opening ceremony, lengkap dengan rok yang paling gw benci dan membuat dua jam itu menjadi waktu terlama dari hidup gw. Tapi lo buat gw sedikit lebih percaya diri.
Thanks to Pupuy, partner gw yang owkeh punya... trims juga buat; I'm sorry-nya... Ya... taun depan gw yang bilang I'm sorry okeh? So... be prepare....Wakakakakaka...
Thanks to all of you guys....


Tapi sebenernya tulisan ini gw dedikasikan buat Ray dan Citra, dua orang yang sama sekali gak terduga dan membuat kalimat ini; Ternyata pertemanan gak bisa dihitung dengan jari atau hari, dan pertemanan tidak bisa ditinjau dari usia. Bisa keluar dari mulut gw dengan lancarnya, gw yang selama ini menganggap orang yang lebih muda tidak bisa lebih oke dari gw... ternyata mereka membuktikan semua itu salah.
Kayak digampar gw kemaren...
Mereka yang terbaik... Gw salut, salut abis...
And this time for real...
I say thanks to both of you... from the bottom of my heart... Deep... deep down inside...


Ceritanya panjang, tapi yang pasti... kemaren menjadi moment paling heboh dalam hidup gw. Yang selama ini manja dan bisa mendapatkan segala sesuatu-nya secara miracle [well... miracle did happens in my life].
Secara gw capek, hari terakhir kerja... pulang jam 6 dan grup A dari Hall A emang D'best bangedh dah akh... udah menyelesaikan semua pekerjaan kita dari jam 5 sore... Udah mulai ngudut [bahasa si Pupuy nih, gak keren banget kan?], cari kopi, cari angin [secara hari terakhir dengan segala keajaiban yang ada, ujan turun....], gaji udah dapet... puas banget dah... tinggal malem mingguan...
Siap balik, ternyata jam setengah 6 sore... anak-anak dari hall D memberi kita 'souvenir' tanda persahabatan... satu dus penuh kertas registrasi yang belum di master! Bagussssss..... hajar bleh!
Shoggy, Anto, Fauzi, Ayu, Athine, Citra dan Pupuy lagi... serta Ray dan yang lainnya yang gak gw sebut... ngebut ngerjain 'souvenir' dari anak D... supaya kita bisa balik jam 6 sore.

Satu masalah selesai...

Ternyata.... Tuhan berkehendak lain...
Tiba-tiba mobil gw mati total!!!!!
Eng ing eng.... darrr....
Di dorong gak ngefek...
Di utak atik tetep aja jedo itu mobil...
Diam gak berdaya, cuma nyala redup...
Nyenyak banget dia tidur sampe gak rela dinyalain, sialan lo 2640!

Dalam kepanikan dan ketakutan bakal ditinggal semua orang [secara emang udah gw ditinggal semua orang, dan kenyataan yang menyebalkan lagi udah terjadi...], gw telepon bokap yang langsung ngebut menuju KEMAYORAN!!! Dan orang Hyundai Emergency yang gw suruh cepet dateng dari Bekasi ke Kemayoran, pintu 2, hall D!

Orang-orang dari Pamerindo langsung angkat tangan, mereka balik gitu aja tanpa memperhatikan kalo gw itu cewek... perempuan... wanita.... ladies.... woman.... or whatever! Rupanya ajaran ibu Kartini nancep banget ke hati mereka ya... persamaan derajat antara wanita dan pria, bikin mereka... para pria itu menganggap kita bisa menyelesaikan masalahnya sampai tuntas!

Oh... halooooo.... apa masih ada orang yang berpikir dengan perasaan di Indonesia ini?
Secara [lagi]... itu pameran Machine Tools and Manufacturing terbesar di Indonesia! Hampir seluruh pengunjung dan orang yang ada di Kemayoran itu laki-laki! Tapi ternyata otak mereka NOL gede! Alias useless...
Kurrranggg ajjjjarrr....
Tapi jujur aja, gw gak kepikiran teori ini saking paniknya... Ini teori dari Citra yang masih bisa berpikiran jernih, sementara otak gw udah butek banget dan berhasil menandaskan satu kotak rokok Revolution merah.
Ray juga dengan rela-nya nyari orang yang bisa buat dorong sekali lagi, gw gak tau harus bilang apa lagi sama dua cewek ini. Tough banget... Padahal gw baru kenal mereka 4 hari, buat Citra malah lebih pendek lagi, cuma 2 hari... Tapi ternyata akhirnya mereka mau nungguin gw berjam-jam sampe bokap n teknisi dari Hyundai dateng ke Kemayoran.....
Percobaan dorong mobil yang kedua juga gagal, dan akhirnya kita cuma nongkrong di sebelah mobil Citra sambil menunggu bantuan datang.
Sumpah gw gak enak ati sama dua cewek ini, soalnya mereka punya rencana. Apalagi tampaknya mereka mau makan-makan di resto kesukaan Ray... makin gak enak... tapi ternyata mereka keukeuh memutuskan buat nungguin gw... Sampai akhirnya bokap gw datang.....!!!
Yeyyeee..... thanks God!

Dan akhirnya jam setengah sepuluh saja... gw berhasil keluar dari PRJ, menuju rumah, dengan 2640 menyala stabil, dan bokap di samping gw... Nyawa gw kayak dicabut, gw langsung black out dan baru sadar pas udah sampe rumah...

I'm home...
Thanks God
Thanks Dad...
Thanks Ray...
Thanks Citra....
I'm save... I'm home at last...
And I know...

Ternyata pertemanan gak bisa dihitung dengan jari atau hari, dan pertemanan tidak bisa ditinjau dari usia.

By Thee


12.05.2008

The SILUET

Entah apa yang membuat gw menunda membuat JEJAK, tanpa gairah, tanpa rasa, tanpa emosi... terasa hampa aja.
Pernah mencoba sekali, tapi tiba-tiba aja gw dibilang berubah. Saat itu gw terpuruk habis, mungkin sulit buat bangun dan mencoba lagi. Tapi tenang aja sis... gw bukan manusia selemah itu, emang gw berisik, tapi gw akan kerjakan apa yang seharusnya gw kerjakan...
Dan buat itu... ini tribute buat kita sis...
Entah apa yang membuat gw suukkkkkaaaaa n cinnnnnttttaaaa banget sama cover ini...
Tapi inilah....
SILUET yang menghilang tanpa JEJAK dalam HUJAN... Our masterpiece... will be in peoples mind until we die!
Two crazy sibling, almost psycho... wrote about something unusual... Hahahahaahaha

This is... SILUET...
I present to you...
[Kalo ini cover gak boleh beredar, bilang gw ya... ntar gw cabut deh... tapi bukannya promosi awal lebih menguntungkan cuy?] --> secara ekonomi sih... iya...

The hell I care...

Enjoy...

Tapi ini masih draft kasar, ada beberapa bagian yang akan dirubah, tapi image dasar akan tampak seperti ini... Emang designer gw jenius bener... cinta banget dah akh... aku padamu lah Tik... Hyakakakakakakaka....

Tertarik dengan cover ini? Penasaran sama isi ceritanya? Siap untuk ide gila dari Thee and Rien lebih jauh?

COMING SOON!!!
Nantikan dan Beli di toko buku terdekat...
Hahahahaha... [sok keren gitu gw....]

New Friends, New Life, New Language

I smoke...
I laugh...
I lost...
I chat...
I'm not alone.... surrounded by people...
New friends, new life and new ME
Another personality I created just to fill in right
Still... sometimes I feel lost and lonely
No one there can understand, not even me
Again...

I was laugh...
I wasn't alone...
I was smoke...
I was smile...
I was... what?
I am what I am...
I love what I do...
I do love what I do now...
I do have fun with these people
Still, something inside me is missing and no one can fill it in
No one can re-construct again my fragile heart
Not in the sunshine
Not in the rain
Not in everywhere...
Nothing...
I was there.... with the pain in my chest
Take me down to the zero level
And again...

New friends, new smile, new life
I smoke...
I lied...
and yet I tell them the truth...
It wasn't nice
But, to be ME...
That's the only way...
This letter was write down
Not from the bottom of my heart...
From the surface or my HEAD
With them I have so much fun
Different words, different world, different style
I can smoke
I can smile and smoke again
Nobody say NO...
What a day...
So... once again...

NEW FRIENDS, NEW LIFE, NEW LANGUAGE, NEW ME

Oh... man... lost it! Throw this post... this was suck!
Do not listen... I'm hungry and fuckin' tired when I write down this letter...
Damn! I've got to back to work tomorrow...
such a pain in the ass [for the truth...]