Rei yang meregang sampai ke hutan, seperti dua frase tak bersentuhan, itulah Rei dengan kenyataan dan dunianya sendiri.
Seperti basah hutan sehabis HUJAN, seperti asap panjang yang tak singgah, pekik peluit lepas yang tak dipastikan, itulah BREATHLESS hanya dalam wujud sinopsisnya.
Barangkali ada yang menunggu kisah ini, mungkin lebih banyak lagi, seperti menunggu HUJAN pada terik 31 derajat Celsius, ketika seakan terdengar tetes pertama pada daun Damar, kemudian tetes kedua, kemudian tak ada.
Aku tahu bulan mengisut, juga hutan dan mega hangus, serta musim jadi sempit—walau begitu aku tetap ingin melihatnya saat matahari terbit, dan ‘ia’ pun terbit, menyesap hingga milimeter terkecil tiap kalimat yang dituliskan.
Kalimat kisah Rei, master Indigo, master segala prediksi dan ambisi masa depan.
Kalimat dari seorang master yang lain, sang pencipta master—kalimat Thee, sang pencipta Rei.
Mungkin pada saat ini aku ingin terbang dan menepi pada kisah itu, kemudian terbang sekali lagi, tak ingin pulang, dan ingin tetap tinggal.
Semua karena keyakinan bahwa kisah itu akan memadat nantinya.
Mengekal,
Abadi,
Di dalam hati siapapun yang rela menyentuhnya.
--by RIEN
SILUET dalam HUJAN yang menghilang tanpa JEJAK
Seorang gadis terisak dan hanya mampu menyesap air matanya sendiri.
Don Juan terkapar berdarah di hadapannya,meremukkan semua cinta yang diidapnya.
Tak jauh dari sana ada sosok yang sedang menjilat pedang batu merah delima,sosok itu tertawa dalam HUJAN,mengejek petir yang tak pernah membuatnya bergeming.
Namun itu hanya sosok,hanya bayangan,bukan fakta; yang nyata.Hanya khayalnya,khayal milik Ia;
Ia tunggu HUJAN pada terik 31 derajat Celsius,ketika Ia seakan mendengar tetes pertama pada daun Damar,kemudian tetes kedua,kemudian tak ada.
Pada saat datang,Ia bergerak bagai SILUET,dengan cepat menarik nyawa yang memang seharusnya pergi di saat itu.
Namun tetap saja,hanya datang dalam kerinduannya,hanya Ia kecap dalam bayang.
;Ada sebuah dinding dengan ajal yang bergerak,seperti SILUET tangan seorang anak,ada sepasang inisial dari nama yang matibegitu ujarnya,ujar tokoh dalam imajinya.
Dalam HUJAN yang terus menari dalam pikirannya itu,sebuah peron terbujur,Loko tak bergerak.Bangku,jam,tiang lampu seakan hanya Tableau.
Pintu gerbang tetap tertutup,tangga tetap mengidap debu dan tak Ia lihat JEJAK.
Seolah menghilang,seolah Gusti di Basilika yang tinggi hati sedang mendengarkan jam yang batuk di ruangan ini.
Ia tak lagi mendengar ketukan tiap pijitan jemari yang bernafsu terbuai narasi.Ia rindu tiga kisah itu,rindu untuk marah dan menangis sembari membuat segala abjad berlompatan menuju file kosong di hadapannya.
Ia rindu dengan darah dalam wadah imajinya,rindu membunuh,rindu semua sesapan ide gila bagaikan Hannibal yang kesepian.
Tapi kini,tak ada JEJAK yang akan menghapus sisa akar,dan ketika Ia coba panggil HUJAN,HUJAN tak menyahut.
Ia tak sampai hati melihat jemari rebah dan punai pergi.Maka Ia bayangkan Ia melayang di angin pasif,seperti asap sampah yang sabar.
Ia percaya yang khayal akan kekal,seperti HUJAN,dan yang hilang akan hilang seperti SILUET,dan yang rindu akan rindu kepada yang ada,yang kata orang mungkin tak ada lagi JEJAK di sana.
Ia rindu menjadi SILUET Dalam HUJAN Yang Menghilang Tanpa JEJAK.
Ia,adalah AKU.
Seorang gadis terisak dan hanya mampu menyesap air matanya sendiri.
Don Juan terkapar berdarah di hadapannya,meremukkan semua cinta yang diidapnya.
Tak jauh dari sana ada sosok yang sedang menjilat pedang batu merah delima,sosok itu tertawa dalam HUJAN,mengejek petir yang tak pernah membuatnya bergeming.
Namun itu hanya sosok,hanya bayangan,bukan fakta; yang nyata.Hanya khayalnya,khayal milik Ia;
Ia tunggu HUJAN pada terik 31 derajat Celsius,ketika Ia seakan mendengar tetes pertama pada daun Damar,kemudian tetes kedua,kemudian tak ada.
Pada saat datang,Ia bergerak bagai SILUET,dengan cepat menarik nyawa yang memang seharusnya pergi di saat itu.
Namun tetap saja,hanya datang dalam kerinduannya,hanya Ia kecap dalam bayang.
;Ada sebuah dinding dengan ajal yang bergerak,seperti SILUET tangan seorang anak,ada sepasang inisial dari nama yang matibegitu ujarnya,ujar tokoh dalam imajinya.
Dalam HUJAN yang terus menari dalam pikirannya itu,sebuah peron terbujur,Loko tak bergerak.Bangku,jam,tiang lampu seakan hanya Tableau.
Pintu gerbang tetap tertutup,tangga tetap mengidap debu dan tak Ia lihat JEJAK.
Seolah menghilang,seolah Gusti di Basilika yang tinggi hati sedang mendengarkan jam yang batuk di ruangan ini.
Ia tak lagi mendengar ketukan tiap pijitan jemari yang bernafsu terbuai narasi.Ia rindu tiga kisah itu,rindu untuk marah dan menangis sembari membuat segala abjad berlompatan menuju file kosong di hadapannya.
Ia rindu dengan darah dalam wadah imajinya,rindu membunuh,rindu semua sesapan ide gila bagaikan Hannibal yang kesepian.
Tapi kini,tak ada JEJAK yang akan menghapus sisa akar,dan ketika Ia coba panggil HUJAN,HUJAN tak menyahut.
Ia tak sampai hati melihat jemari rebah dan punai pergi.Maka Ia bayangkan Ia melayang di angin pasif,seperti asap sampah yang sabar.
Ia percaya yang khayal akan kekal,seperti HUJAN,dan yang hilang akan hilang seperti SILUET,dan yang rindu akan rindu kepada yang ada,yang kata orang mungkin tak ada lagi JEJAK di sana.
Ia rindu menjadi SILUET Dalam HUJAN Yang Menghilang Tanpa JEJAK.
Ia,adalah AKU.
--by RIEN




1 gossip:
Kita tidak tahu siapa, apa, dan bagaimana.
Yang kita tahu hanya aku, kau, dan dia.
Kita tidak tahu bagaimana perjalanan hidup orang lain.
Yang kau tahu hanya dunia milikmu sendiri.
Terkadang semua jauh dari harapan, terkadang sesuatu dibalik sesuatu merangsang keingintahuan mengenai sesuatu yang Maha Rahasia.
Aku tidak peduli kau ini siapa,apa, dan bagaimana.
Yang aku tahu, kau memiliki darah, pemikiran, dan keras kepala yang sama.
Kesamaan itu yang membuat perbedaan kita semakin besar.
Namun sekarang aku tak peduli.
Biarkan semua orang menyesapmu dalam perbedaan itu, dalam sensasimu, dalam rahasiamu.
Kau tetap kau.
Dan aku adalah aku.
Be my partner, be my sister, be my great discusser.
I still wanna say, "I'm ABSOLUTELY straight". ^_^
Poskan Komentar