Indonesian Coffee -Click here!!

6.09.2008

HUJAN written by Thee and Rien

Lampu kamarnya menyala terang. Menerangi lantai semen tanpa berselimutkan terrazo, keramik, ataupun marmer itu. Hujan tadi pagi sudah reda. Namun bau anyir tanah masih semerbak menggelitik hidung. Membangkitkan kesegaran dan ketenangan batin bagi orang yang benar-benar jahat sekalipun.

HUJAN...

Sebuah Fiksi. Novel Thriller Fiction dengan kontroversi sosial politik, pertama di Indonesia. Sarat dengan konflik dan permasalahan tak terduga. Juga hal-hal yang marak terjadi di masyarakat. Mengetengahkan problema kontroversial, seperti hubungan homoseksual atau sikap anti-sosial dan non aktual yang kian menjamur saat ini. Dihadirkan pula argumen anti politik yang menghadirkan unsur PKI dan orde lama. Dikemas dalam fiksi yang berani hingga membuat kerasnya alur cerita maju-mundur yang ditampilkan di dalamnya.

Gadis itu menatap deretan kertas, potongan-potongan koran, lembaran foto-foto tua yang sudah menguning dan koran pagi.

“Apalagi yang mau kulakukan sekarang? Satu sudah jatuh, tinggal lima lagi. Dan berikutnya… tunggu Ayah, dendam ini pasti terbalas.”

Kisah ini bermula, didasarkan atas pembalasan dendam Alika Suryopranoto atas kematian Ayahnya, Handoko Suryopranoto. Kematian Handoko terjadi akibat fitnah yang dilakukan oleh sahabatnya sendiri, Rinto Kusumoatmodjo.

Handoko divonis seumur hidup atas fitnah pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Rinto bersama dengan kelima anteknya [Beno Martin, Eben Lumaris, Omar Tahir, dan Sugondo]. Handoko meninggal dalam penjara, bunuh diri atas kekejaman Rinto terhadap Laksmini.

Wanita bernama Laksmini Setyaningsih, adalah istri Handoko. Alasan utama kekejaman Rinto, karena Laksmini berulang-kali menolak cinta tulus Rinto yang lebih dulu hadir sebelum Handoko menyadari bahwa ia juga mencintai Laksmini. Kebencian Rinto bertambah, karena Laksmini lebih memilih Handoko sebagai cinta terakhir dalam hidupnya.

Gadis itu menoleh, lama-lama ia merasakannya juga. Perhatian itu, sangat tidak wajar dilakukan seorang pria yang mengaku temannya. Mata mereka bertumbukan. Gadis itu langsung menunduk. Mengelak secara halus. Kemudian bangkit.

Dari pernikahan Laksmini dan Handoko, terlahir Alika. Tokoh utama semua pembunuhan yang terjadi di tahun 2007. Penjahat sebenarnya yang mencintai seseorang seperti dirinya. Luar dan dalam.

Seorang wanita, bernama Selina Ardiany.

Gadis yang kini tengah duduk di kursi panggung dan menyanyikan lagu yang sama dengan yang ia dengar beberapa waktu yang lalu.

Suaranya begitu hangat dan membelai jiwa Alika yang kosong.

Suaranya begitu ramah hingga menyapa hati Alika yang dingin.

Memaksanya untuk kembali merasa dan bercinta.

Memaksanya untuk… jatuh cinta.

Selina, adalah seorang gadis buta yang membantu polisi mengupas tuntas masalah pembunuhan berantai yang terjadi di tahun 2007. Briptu Daud, orang pertama yang bertanggung jawab dalam kasus tersebut, membutuhkan Selina karena indera keenam yang dimiliki gadis itu. Selina membantu Briptu Daud untuk membongkar habis kasus pembunuhan yang kesemuanya dilakukan oleh Alika, sebagai pembalasan dendamnya untuk Handoko. Namun, Selina tak sedikitpun mengetahui bahwa Alika adalah dalang di balik semua pembunuhan itu. Karena Alika adalah pembunuh yang lihai. Ia bermain bersih. Kejahatannya tak tercium, bahkan oleh analis hebat dan polisi terlatih sekali pun.

Tidak seorang pun yang tahu jika di antara ribuan orang yang berada di sana, hanya satu yang bersikap tidak biasa. Dia diam saja di tempatnya, tersenyum dan menyalakan rokoknya. Tidak terlihat antusias atau ingin tahu, seolah dia sudah tahu hal itu akan terjadi.

Alika bertemu dengan Selina tanpa terduga, di sebuah bar kecil di pusat kota Jakarta. Saat ia sedang melakukan rencana pembunuhannya yang kedua. Tanpa disangkanya, hatinya luluh dengan kelembutan Selina. Suara lembutnya, wajah lembutnya, dan perilaku lembutnya.

Selina, gadis yang tak pernah mendapat kasih sayang sejak ia dilahirkan, merasakan hal yang sama terhadap Alika. Kebutaannya didapat dari kekejaman Ayah kandungnya yang kerap menyiksanya sewaktu kecil. Tanpa sedikit pun perlindungan dari seorang Ibu yang melahirkannya ke dunia.

Sejak dulu dia memang tidak pernah mencintai laki-laki, bukan Selina tidak mau. Tapi tidak bisa. Selina tidak dapat mencintai kaum Adam. Karena sosok mereka hanya mengingatkannya pada bayang Ayah yang hanya bisa menyiksanya hingga buta.

Kerinduan yang sudah terakumulasi itu, terbalaskan dengan kehadiran Alika. Menggiringnya pada kehidupan cinta yang tidak normal, melanggar kodratnya, dan mengundang banyak kontroversial.

Alika melingkupi Selina. Menyelimutinya dan melindunginya.

Dia mencintai gadis ini…

Baru sekarang ia berani mengakuinya.

Ini bukan penyakit, sungguh bukan penyakit.

Ini sebuah rasa, ini ada.

Nyata.

“Jika aku seorang pembunuh… apa kamu masih akan mencintaiku?”

Air mata Selina menetes, “Andaikata itu benar, kemungkinan besar aku akan mati di tanganmu dengan mencintaimu.”

Mereka sudah gila.

Gila karena cinta yang menyelimuti mereka begitu besar.

Sementara itu, Alika tetap menjalankan rencananya untuk menghabisi nyawa kelima orang yang memfitnah Handoko tanpa sedikitpun berniat mundur. Jalan yang ditempuhnya berliku, begitu pun perasaan cintanya terhadap Selina. Mengalami fase naik dan turun, dikarenakan hambatan Briptu Daud yang terus menggunakan Selina sebagai asisten investigator andalannya.

Tidak ada darah seperti kejadian yang sudah-sudah.

Tidak ada luka atau daging yang terkoyak.

Hanya terdengar suara bunyi tulang patah.

Tidak akan ada yang berpikir jika gadis cantik itu merasa shock dan tertekan karena mengetahui pria yang terhimpit di bawah koper itu masih hidup.

Namun walaupun segala sesuatu menghadang di depannya, Alika tetap berhasil menjalankan rencananya. Dewi Fortuna selalu berpihak padanya. Ilmu dan kelihaiannya berpengaruh pula pada perasaan Selina terhadapnya. Saat mengetahui semua kejahatan Alika, Selina justru rela untuk buta karena cintanya yang begitu besar pada Alika, di dalam kebutaannya sendiri. Memunafikkan kebenaran dan rasionalitasnya. Selina lebih memilih cinta butanya, bukan kenyataan. Ia lebih memilih harapan, bukan nurani yang menolaknya melakukan cinta abnormal tanpa tanggung jawab itu.

Selina tersenyum, saat membayangkan Alika melakukan segala hal yang mereka rencanakan dengan baik. Ia kini mengerti mengapa cinta membuat semuanya menjadi buta. Bahkan untuk orang buta seperti dirinya sekalipun. Kerinduan akan kasih sayang yang tak mampu digapainya. Kini digenggamnya, dalam diri Alika. Ia tak ingin memutar balik langkahnya. Ia ingin aman bersama dengan Alika. Memunafikkan semua kenyataan. Tegak berjalan dalam pelukan wanita itu.

Alur cerita adalah maju-mundur, disamping intrik dan konflik pada tahun 2007, juga akan ditampilkan mengenai kehidupan Handoko di masa lalu. Selama jangka waktu 1966 sampai 1989.

Megaria terlihat begitu mistis malam ini. Sosoknya begitu megah, kuno, dan penuh filosofi. Masih ada beberapa pedagang dan orang-orang yang menonton jadwal midnight atau sekadar melepas penat. Memilih film milik Teguh Karya atau Arifin C Noer. Dua sutradara yang sedang naik daun saat ini.

Pada tahun 1966, diceritakan juga saat-saat Handoko yang masih menjalin persahabatan dengan Rinto. Dimana mereka mengalami kejadian tak terduga dalam kurun waktu masa berjayanya PKI.

Sementara itu, di malam yang sama. Di tempat yang lain. Dua orang tengah disiksa di sebuah rumah kosong. Di sebuah kamar yang gelap gulita tanpa penerangan sedikitpun.

Alasan partai terlarang dan bukti saputangan yang menguatkan, menjadi pembenaran dari semua kejadian ini.

Termasuk pembunuhan berencana yang dilakukan Rinto pada tahun 1985 dan 1986, semata-mata untuk memfitnah sahabatnya--Handoko. Dikarenakan cintanya yang tak terbalas oleh Laksmini, karena gadis pujaannya itu lebih memilih Handoko sebagai pendamping hidupnya.

Ia menahan kalimat pujian yang hendak terlontar dari mulut Galih dengan tangannya. Galih tidak merasakan ada sekat antara kulit telapak orang yang dicintainya itu dengan selaput tipis bibirnya. Ia tidak merasakan adanya saputangan bersimbol PKI itu hadir di indera pengecapnya. Tidak juga merasakan aroma chlorofoam sudah menembus tajam indera penciumannya.

Kisah akan berakhir dengan kemenangan yang tak terduga. Permainan yang bersih memenangkan semuanya. Teori yang dipikirkan aparat hukum ternyata bukan di atas segala-galanya. Terkadang kemenangan berpihak jauh dari harapan. Bukan seperti cerita cinta biasa. Namun penuh kejutan, dan rasa tidak percaya akan kenyataan yang menurut manusia, seharusnya salah.

2 gossip:

siteruterubozu mengatakan...

aku sudah membaca hujan, dan ini memang novel Thriller Fiction sosial politik pertama di indonesia. ceritanya lebih realistis dan di olah dengan kemasan yang jenius.
saia bersyukur, tak sengaja menemukan novelmu ini.

salam kenal :)

cesca mengatakan...

bukunya keren, saya ga sengaja nemu Hujan waktu travelling ke Bandung, terus terang yang bikin catchy tema cinta terlarangnya, tapi waktu baca malah menikmati suspensenya. Alur yang lompat2 bikin menarik dan ga membingungkan sama sekali. Keren deh pokoknya. Ditunggu buku berikutnya.